Translate

Kamis, 01 Oktober 2015

Story of the Saint: St Theresia Lisieux


    
     Santo-Santa adalah sesorang yang sangat dekat dengan Tuhan sehingga mereka menjalani hidupnya seturut dengan jalan Tuhan. Menjadi kudus seperti para santo santa tidak harus membuat sesuatu yang besar, tetapi hal sederhana yang berguna bagi banyak orang. Seperti yang dilakukan oleh salah satu orang kudus dari kota Lisieux ini, ia adalah seorang gadis sederhana yang tidak pernah melakukan sesuatu yang istimewa di dalam hidupnya, namun kekuatan cintanya kepada Tuhan lah yang menjadikannya orang kudus, berikut adalah kisahnya.


     Theresia Martin lahir di kota Alençon, Perancis, pada tanggal 2 Januari 1873. Ayahnya bernama Louis Martin dan ibunya Zelie Guerin. Pasangan tersebut dikarunia sembilan orang anak, tetapi hanya lima yang bertahan hidup hingga dewasa. Kelima bersaudara itu semuanya puteri dan semuanya menjadi biarawati. Ketika Theresia masih kanak-kanak, ibunya terserang penyakit kanker. Pada masa itu, mereka belum memiliki obat-obatan dan perawatan khusus seperti sekarang. Para dokter mengusahakan yang terbaik untuk menyembuhkannya, tetapi penyakit Nyonya Martin bertambah parah. Ia meninggal dunia ketika Theresia baru berusia empat tahun.

     Setelah isterinya meninggal, ayah Theresia memutuskan untuk pindah ke kota Lisieux, di mana kerabat mereka tinggal.  Di dekat sana ada sebuah biara Karmel di mana para suster berdoa secara khusus untuk kepentingan seluruh dunia. Ketika Theresia berumur sepuluh tahun, seorang kakaknya, Pauline, masuk biara Karmel di Lisieux. Hal itu amat berat bagi Theresia. Pauline telah menjadi "ibunya yang kedua", merawatnya dan mengajarinya, serta melakukan semua hal seperti yang dilakukan ibunya. Theresia sangat kehilangan Pauline sehingga hal itu membuatnya terpacu untuk mengikuti jejak para kakaknya untuk menjadi biarawati. Karena ia masih dibawah umur Theresia harus pergi ke Roma dan meminta ijin pada Paus untuk mengijinkannya masuk ke biara. Semangatnya membuat Paus mengijinkan Theresia untuk masuk ke biara.

     Suatu ketika, Theresia mendengar berita tentang seorang penjahat yang telah melakukan tiga kali pembunuhan dan sama sekali tidak merasa menyesal. Theresia mulai berdoa dan melakukan silih bagi penjahat itu (seperti menghindari hal-hal yang ia sukai dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang kurang ia sukai). Ia memohon pada Tuhan untuk mengubah hati penjahat itu. Sesaat sebelum kematiannya, penjahat itu meminta salib dan mencium Tubuh Yesus yang tergantung di kayu salib. Theresia sangat bahagia, ia tahu bahwa penjahat itu telah menyesali dosanya di hadapan Tuhan.

    Theresia tidak pernah melakukan sesuatu yang istimewa selama berada di dalam biara, namun ada satu hal yang menjadi keunikannya yaitu cinta kepada Tuhan. Suatu ketika Theresia mengatakan, "Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau pun itu, Ia ingin kita mencintai-Nya." Jadi, Theresia berusaha untuk selalu mencintai. Ia berusaha untuk senantiasa lemah lembut dan sabar, walaupun itu bukan hal yang selalu mudah. Para suster biasa mencuci baju-baju mereka dengan tangan. Seorang suster tanpa sengaja selalu mencipratkan air kotor ke wajah Theresia. Tetapi Theresia tidak pernah menegur atau pun marah kepadanya. Theresia juga menawarkan diri untuk melayani suster tua yang selalu bersungut-sungut dan banyak kali mengeluh karena sakitnya. Theresia berusaha melayani dia seolah-olah ia melayani Yesus. Ia percaya bahwa jika kita mengasihi sesama, kita juga mengasihi Yesus. Mencintai adalah pekerjaan yang membuat Theresia sangat bahagia.

     Hanya sembilan tahun lamanya Theresia menjadi biarawati. Ia terserang penyakit tuberculosis (TBC) yang membuatnya sangat menderita. Kala itu belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit TBC. Dokter hanya bisa sedikit menolong. Ketika ajal menjelang, Theresia memandang salib dan berbisik, "O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!" Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggal dunia ketika usianya masih duapuluh empat tahun. Kisah hidupnya yang berkesan mambuat Paus Pius XI memberi gelar "Santa" dan pelindung karya misi gereja, kemudian oleh paus Pius XII Theresia diangkat sebgai pelindung Perancis bersama St Jean d Arc.

     Semua orang kudus adalah manusia biasa, namun mereka mau menerima Tuhan seutuhnya meskipun menerima banyak cobaan. Tak perlu hal yang besar untuk mengubah dunia, melainkan satu hal kecil yang berguna dan disertai dengan iman. Sekian postingan kali ini, semoga berguna dan Tuhan memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar